Pandangan Mati Lawan

Blind spot adalah istilah yang sering di gunakan untuk posisi dimana lawan kesulitan untuk mendeteksi dan mengcounter serangan yang kita masukkan. Dalam beberapa aliran beladiri ini merupakan satu teknik wajib. Dalam Beladiri Jepang (Aikido, Karate dll) Blind Spot disebut Shikaku, Shikaku adalah posisi dimana sudut mata sudah mencapai batas penglihatan secara normal, dan itu adalah kurang lebih 60 derajat diambil dari centerline kearah luar.

Silat Betawi dan Silat Sunda ada istilah Suliwa, Suliwa bisa diartikan “sulaya tina panyangka” terjemahan bebasnya “diluar sangkaan”. Padanan kata Suliwa dalam Bahasa Jawa adalah Slewah.

Dalam bahasa Jawa kata “slewah” bisa dicontohkan sebagai berikut:
– Keris pamor slewah adalah keris yang pamornya beda antara dua sisi
– Si X sudah “slewah”, itu artinya si X tidak lurus alias “miring”, jadi gendeng/gila…
– Mas Kiki ora latihan, mbuh “nylewah” menyang endi? artinya adalah Mas Kiki tidak latihan, tidak tau “menyelinap” kemana tuh? menyelinap mengambil jalan yang “tidak lurus” atau nyerong (berbelok)

Jadi satu kesimpulan, kata slewah dalam bahasa jawa adalah “tidak lurus” yaitu “miring” atau “serong”, satu hal yang tidak lazim yang dilakukan oleh pihak pertama yang berbeda dg yang dipikirkan oleh orang kedua, yang lazim bagi orang awam itu yang lurus.

Di Taijiquan disebut sebagai Si Dian (死點) atau “titik mati”. Adanya di sisi setiap contact point. Teknik yang digunakan untuk masuk ke sini disebut Ban Quan Da Ren (半圈打人) atau “setengah lingkaran memukul orang”.

Dalam Taijiquan Lun (Taiji klasik Wang Zhongyue) ada kata-kata seperti ini:

仰之則彌高,俯之則彌深。進之則愈長,退之則愈促。一羽不能加,蠅蟲不能落。人不知我,我獨知人。英雄所向 無敵,蓋皆由此而及也。

Artinya: “Melihat keatas terasa semakin tinggi, melihat kebawah terasa semakin dalam. Maju terasa semakin jauh, mundur terasa semakin terdesak (keempat bait ini berlaku bagi lawan). Sehelai bulupun tidak bisa ditambah, lalatpun tidak bisa hinggap. Orang lain tidak mengetahui diriku, aku sendiri yang mengetahui orang lain (keempat bait ini berlaku bagi diri sendiri). Seorang pahlawan menjadi tidak terkalahkan, dikarenakan oleh hal ini.”

Ini menggambarkan perasaan yang terjadi pada saat pengambilan Blind Spot ala Taijiquan. Pada saat kita kontak dengan lawan, apabila lawan niatnya menyerang ke atas, maka dia akan merasa seolah-olah kita jadi tinggi sekali. Apabila dia berniat menyerang ke bawah, maka dia akan berasa seolah-olah berdiri di depan sumur yang dalam . Mau maju nggak sampai-sampai, tapi mau mundur nggak bisa. Disini tergambar dengan jelas bahwa dalam Taijiquan, setiap terjadi kontak dengan lawan, maka ada unsur controlling (atau dalam bahasa Mandarinnya disebut Na) sehingga menyebabkan lawan mati langkah. Dan untuk mengontrol lawan dengan baik, diperlukan kemampuan untuk mengontrol Center lawan.

Dalam Filipino Martial Arts (FMA) Blind Spot digambarkan dalam penerapan Foot Work Female Triangle. Jadi dalam setiap pergerakan dalam FMA, tujuannya lebih kepada diagonal movement atau pergerakan serong, untuk mendekatkan diri secara aman terhadap lawan adalah dengan mencapai posisi Blind Spot tersebut.

Untuk lebih menjelaskan proses belajar dan terdiskripsi dalam Blind Spot, dalam FMA ada satu system yang dinamakan Espada y Daga, disini tangan utama dipersenjatai Pedang Panjang dan tangan suport dipersenjatai Pisau, versi lain yang sering digunakan dalam pelatihan adalah Olisi y Daga, yaitu pedang diganti dg Olisi atau stick rotan…

Dalam Sistem ini, ada beda dimensi dan beda terhadap jarak. Espada y daga akan melatih kewaspadaan akan serangan lanjutan, karena tangan support lawan dipersenjatai dengan sesuatu yang tajam yang justru punya peran “lebih”, pergerakan-pergerakan jelas yang detail pada Blind Spot sangat berarti dalam memanipulasi jarak pertahanan dan penyerangan, bilamana olisi mudah dijangkau untuk disarming dan locking (karena terbiasa sih, soalnya dari awal pelajarannya memang stick fighting) dg penambahan penajaman pada tangan support mau tidak mau praktisi dituntut selalu bergerak pada posisi2 aman, dimana pisau pada tangan lawan tidak lagi bisa menjangkau.

Ini cukup rumit untuk dipelajari, tetapi hasil yang didapat adalah satu bentuk movement yang nantinya akan bener2 mensuport pelajaran tangan kosong yang pada kurikulum diletakkan pada bagian akhir.

Untuk mendapatkan posisi ini tidak gampang dan rata – rata harus menunggu serangan lawan dulu baru bisa masuk blind spot inti dari pencapaian blind spot ini adalah lawan harus lengah dan membuka pertahanan dan salah satu cara membuka pertahanan lawan adalah membiarkan lawan menyerang duluan.

Meski memang ada banyak macam cara untuk mendapatkan blind spot ini, tapi cara yang paling umum dilakukan adalah diawali dengan teknik hindaran keluar dan menyerang lawan dari posisi luar.

Yang di maksud posisi luar ini adalah posisi menyambut serangan dari luar (dalam silat dikenal juga dengan teknik sambut luar. aplikasi teknik ini adalah dengan cara menghindar serangan lawan (baik pukulan atau tendangan lurus) kearah kanan lawan dengan membentuk sudut tertentu terhadap posisi lawan (biasanya sudut serangnya adalah 45 derajat).

Di beberapa aliran silat teknik dari blind spot ini di barengi juga dengan serangan masuk dari arah samping luar lawan (biasanya jika lawan memukul dengan tangan kanan, kita akan sambut dari arah tangan kanan luar). bentuk serangan masuk bisa pukulan atau tendangan.

Bahkan ada juga yang sambil menyerang melakukan kawalan terhadap tangan kanan lawan dan biasanya yang dikawal itu adalah sikut dari tangan kanan lawan. kawalan sikut ini dalam melakukan teknik blind spot berguna untuk menjaga agar lawan tidak bisa menggunakan tangan kanan untuk melakukan belaan atas serangan yang dilakukan dari blind spot.
Teknik mendapatkan posisi blind spot ini memang perlu ketekunan dan kesabaran dalam melatihnya agar senantiasa mendapatkan posisi blindspot yang paling sempurna. saya yakin semua aliran beladiri memanfaatkan posisi ini sebagai titik serangan balik bagi lawan yang cukup mereportkan (kalau tidak disebut mematikan).

Dalam Tinju, yang sangat diperhitungkan adalah tangan utama lawan, kalau Ortodoks adalah tangan kanan, dimana itu merupakan senjata andalan bisa berupa Cross, Hook atau Upercut yang bisa berdampak fatal, hal ini terkait juga dg footwork tinju dimana lead kaki selalu memakai kaki kiri didepan, hingga dalam match selalu ada kecenderungan petinju selalu bergerak ke bagian kiri lawan (melawan arah jarum jam), Inipun sebenarnya mempunyai tujuan untuk mencari posisi Blind Spot lawan. Tinju dalam tekniknya spesifik terhadap pembagian kiri dan kanan, Petinju yang Soutpaw (Kidal) biasanya bisa membinggungkan oleh lawan yang tidak terbiasa, karena pergerakan yang berlawanan.

Kebalikan dari Blind Spot adalah “Center Line”, kalau Blind Spot mengarah pada Penjuru Luar, Center Line mengarah pada Penjuru Dalam.
(Dari Berbagai Sumber – HartCone)

Posted on 20 Mei 2010, in sekadar info. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: